Ia dijuluki Pahlawan Thomas Cup 1994. karena penyelamat dalam masa gawat.
Peran itulah yang dimainkan Hastomo Arbi bagi kemenangan 3-2 regu Indonesia atas Cina
dalam final Piala Thomas di Kuala Lumpur, Mei 1984. Turun bukan sebagai andalan,
malah agak diremehkan, Momo atau Mo -- panggilan akrab Hastomo --
menundukkan Han Jian, 14-17, 15-6, 15-8.
Inilah yang membuka peluang bagi regu Indonesia. Soalnya, andalan di nomor tunggal,
Liem Swie King dan Icuk Sugiarto, masing-masing dikalahkan oleh dua pemain Cina lainnya,
Luan Jin dan Yang Yang. Tanpa kemenangan Hastomo, kemenangan dua pasangan
ganda Indonesia, Christian/Hadibowo dan Kartono/Liem Swie King, menjadi mubazir.
Pulang ke tanah air dengan memboyong Piala Thomas, Hastomo dielu-elukan sebagai pahlawan.
Disambut dengan permadani merah, taburan bunga melati, dan diarak keliling Jakarta, Bandung,
Semarang, dan kota-kota lainnya. Banyak yang datang menyatakan simpati,
termasuk Grace Simon. Setengah bulan menjadi ''pahlawan'', ia menerima sekarung surat dari
penggemar. Kendari sudah tenar, pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah, yang dikenal berdisiplin ini,
tetap rendah hati.
|